Rabu, 30 November 2011

Bergerak Dinamis

Koran » Hikmah – Koran REPUBLIKA

Kamis, 19 Maret 2009 pukul 23:49:00

Bergerak Dinamis

Oleh Muhammad Ali Wafa

Kehidupan manusia ditandai dengan detak jantungnya. Kehidupan akan dinyatakan berakhir ketika seluruh mesin tubuh, detak jantung, dan otak berhenti bekerja. Status kehidupan pun berakhir karena telah divonis dengan kematian.
Seperti itulah Allah SWT menciptakan gerakan sebagai tanda kehidupan, dan diam adalah tanda kematian. ''Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.'' (QS Alkahfi [18]: 18).
Firman Allah SWT ini menyatakan tanda-tanda kehidupan penghuni gua Kahfi adalah dengan gerakannya ke kanan dan ke kiri. Sedangkan orang yang mati, tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
Allah SWT menawarkan dua pilihan terhadap manusia dengan ciri yang berbeda antara keduanya. Pertama, bergerak. Pergerakan menjadi suatu yang mutlak bagi manusia untuk bisa menjadi orang yang sukses, baik di dunia maupun akhirat. Tanpa bergerak mustahil manusia bisa menggapainya.
Kedua, diam. Berdiam diri merupakan suatu tanda kegagalan yang dapat berakibat penyesalan dan kerugian manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Betapa sering kita lihat orang yang gagal adalah karena banyak diamnya. Cenderung malas berusaha dan tidak bekerja keras menjadi ciri dari orang yang diam.
Sebagaimana air menggenang yang tidak mengalir, adalah air yang kotor dan jentik-jentik pun berkembang biak. Allah SWT memberikan sifat pergerakan air sungai yang ada di dalam surga dengan sebutan mengalir yang tiada berubah rasa dan baunya, seperti termaktub dalam firman-Nya.
''Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.'' (QS Albaqarah [2]: 25).
Ayat di atas menjelaskan bahwa surga tidak dapat dicapai kecuali dengan beriman, berbuat kebajikan, dan bertakwa kepada Allah SWT. Beriman berarti meyakini dalam hati, mengucapkannya dengan lisan, dan merealisasikannya dalam perbuatan. Sedangkan berbuat kebajikan adalah mengerjakan amal-amal saleh, di mana ibadah menjadi salah satu caranya.
Sementara takwa memiliki arti takut kepada Allah SWT, dengan syarat mengerjakan segala perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Ketiga cara untuk menggapai surga tersebut, harus teraplikasi dengan adanya pergerakan yang dinamis dan konsisten. Karena pergerakan tersebut, Allah SWT menyediakan surga untuk hamba-Nya.
Demikianlah, gerak dinamis adalah hidup dan kehidupan. Adapun diam statis adalah mati dan kematian. Karena itu, bergerak dinamis berarti sesuatu yang terpuji, sementara diam statis perlu dihindari.

Nasihat Ibnu Abbas

Hikmah

Oleh Rifqi Fauzi

Nasihat Ibnu Abbas

Salah satu sahabat kesayangan Nabi SAW adalah Ibnu Abbas. Sejak kecil dia sudah sangat dekat dengan Nabi SAW, sehingga Nabi SAW sangat mencintai dia dan mendoakannya untuk menjadi seorang yang faqih dalam masalah agama. Hasil dari doa tersebut, dia menjadi seorang sahabat yang ahli dalam Ilmu Tafsir, fiqih, dan tercatat sebagai sahabat kelima yang paling banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Aisyah.

Dari sekian banyak nasihat yang beliau tuangkan dalam beberapa atsar-nya, ada empat nasihat sekaligus amalan yang paling dicintai oleh beliau, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Umar Abdul Al-Kafi dalam bukunya Afaatu al-Lisaan. Di antara nasihat-nasihat itu adalah, pertama, supaya Umat Islam senantiasa berkata dalam hal yang bermanfaat, sehingga dengan keterjagaan lisannya, setiap ucapan yang keluar dari mulut mengandung hikmah dan ilmu yang bermanfaat.

Kedua, selain berkata dalam hal-hal yang bermanfaat, dia juga menekankan untuk bertutur kata yang baik dan sopan dan melarang untuk berbantah-bantahan dengan cara dan bahasa yang kasar. Hal ini sejalan dengan syarat berdakwah yang baik, sebagaimana firman Allah, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl [16]: 125).

Ketiga, meminta kepada keluarga atau teman terdekat untuk selalu mengingatkan kita jika terdapat kesalahan dan kelakuan yang tidak mereka sukai. Begitupun dia menasihatkan untuk selalu gampang memaafkan kesalahan seseorang. Dengan saling mengoreksi dan gampang memaafkan, kita akan senantiasa sukses menjalin kekerabatan dengan siapapun.

Keempat, hendaklah bergaul dengan sesama dengan kelakuan yang baik dan yang mereka sukai, sebagaimana diri kita sendiri ingin digauli oleh orang lain dengan kelakuan yang baik dan yang kita sukai. Saling menghormati, mencintai, kelembutan, dan kesopanan merupakan fitrah yang paling dicintai oleh semua manusia.

Keempat amalan di atas merupakan kunci sukses Ibnu Abbas menjadi ulama yang sangat berpengaruh baik di kalangan sahabat ataupun bagi Umat Islam pada umumnya. Selain itu dia juga menjadi seorang yang dicintai banyak orang. (Dikutip dari REPUBLIKA - Senin, 17 Desember 2007 – 7 Dzulhijjah 1428 H)

Tinggalkan Maksiat

Hikmah

Oleh Dadang Hawari

Saatnya Tinggalkan Maksiat

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu

berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Albaqarah [2]:183)

Salah satu ciri orang bertakwa adalah tidak melakukan perzinaan dan tidak mengonsumsi narkoba/naza (narkotika, alkohol, dan zat adiktif). Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk” (QS Al-Isra’ [17]:32).

Senada dengan itu, Nabi SAW menyatakan, Apabila perzinaan sudah meluas di masyarakat dan dilakukan secara terang-terangan (dianggap biasa), maka infeksi dan penyakit mematikan yang sebelumnya tidak terdapat pada nenek moyangnya, akan menyebar di antara mereka” (HR Ibnu Majah, Al Bazzar dan Baihaqi).

“Setiap zat, bahan atau minuman yang dapat memabukkan dan melemahkan akal sehat adalah khamar (alkohol), dan setiap khamar adalah haram” (HR Abdullah bin Umar RA).

Dari hadis di atas jelaslah perzinaan diharamkan meski memakai kondom sekalipun dan juga narkoba/naza. Karena kedua hal ini termasuk perbuatan keji dan munkar.

Dengan berpuasa kedua hal tersebut dapat dicegah sebagaimana Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya menyatakan, “Puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum. Namun, sesungguhnya puasa itu mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan kotor dan keji (mungkar)” (HR Al-Hakim).

Juga, Sesungguhnya peperangan terbesar (di muka bumi ini) adalah peperangan melawan hawa nafsu dirinya sendiri” (HR Thabrani dan Baihaqi).

Puasa menunjukkan keimanan seseorang untuk melawan hawa nafsu dirinya sendiri. Perzinaan dan mengonsumsi narkoba/naza adalah salah satu bujuk nafsu. Andai katapun sudah terlanjur segeralah bertobat, shalat, berdoa dan berzikir, serta puasa untuk memperoleh ampunan Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang telah menjalankan ibadah puasa dengan sempurna serta ikhlas karena Allah semata, maka Allah mengampuni dosa-dosa tahun sebelumnya” (HR Bukhari dan Muslim). (Dikutip dari REPUBLIKA - Rabu, 19 September 2007 – 7 Ramadhan 1428 H)

Pohon Amal

Hikmah

Oleh EH Kartanegara

Pohon Amal

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebehagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (QS Alqashash [27]:77).

Bagi manusia beriman, pohon amal adalah sebuah keajaiban di luar batas nalar manusia. Buah dari pohon amal itu jumlahnya jauh lebih banyak dari yang pernah kita bayangkan.. Itu terjadi semata-mata karena kemurahan Allah seperti dijanjikan dalam firman-Nya, “Perumpamaan mereka yang menyumbangkan harta di jalan Allah seperti sebutir biji menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir menghasilkan seratus biji. Allah melipatgandakan bagi yang dikehendakinya. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui” (QS Albaqarah [2) : 261).

Tentang keutamaan menanamkan benih kebaikan agar kelak kita dapat memetik buah dari pohon amal yang kita tanam di dunia ini, Muhammad Qutbh mengutip sebuah hadis dalam bukunya, Qabasat min al Rasul, “Jika kiamat yang datang, sementara di tangan salah seorang kamu ada biji palem, lalu ia mempunyai kesempatan untuk menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia tanamkan. Dengan demikian ia akan mendapatkan pahala”.

Hadis itu, menurut Muhammad Qutbh, juga memberi pengertian kepada kita bahwa jalan dunia dan akhirat itu bukanlah dua jalan yang berbeda. Jalan Allah adalah satu, baik jalan di dunia maupun jalan menuju akhirat. Jalan itu tak terputus oleh ruang, waktu, maupun aktivitas, dan hanya dapat kita tempuh dengan ibadah.

Singkatnya, jalan Allah menuju akhirat sesungguhnya sudah kita tempuh sejak kita hidup di dunia sekarang ini. Pangkal jalan Allah ada di dunia ini dan ujungnya ada di akhirat kelak. Ini pula sebabnya Islam sesungguhnya tidak memisahkan antara amal (kerja untuk urusan dunia) dan ibadah untuk urusan akhirat seperti dipahami banyak orang selama ini.

Muhammad Qutbh mencontohkan hidup Rasulullah Muhammad SAW. Amal (kerja) Rasulullah sepanjang hidup adalah ibadah. Begitu pula ibadah beliau dilakukan dengan amal.

Segala amal (perbuatan) kehidupan di dunia ini diorientasikan untuk mendapatkan ridha Allah demi kepentingan akhirat. Meneladani hidup Rasulullah yang efisien – sekali hidup untuk mencapai dua kebahagian sekaligus – tidak akan ada kesia-siaan hidup. (Dikutip dari REPUBLIKA - Kamis, 26 Juli 2007 – 11 Rajab 1428 H).

Membangun Generasi Emas

Koran » Dialog Jumat

Jumat, 13 Februari 2009 pukul 07:54:00

Membangun Generasi Emas Melalui FMN IV

ISLAM DI IBU KOTA

Erni Arie Susanti

Staf Infokom Jakarta Islamic Centre

Nabi Muhammad SAW adalah anugerah teragung yang Allah berikan kepada alam semesta. Ketika itu, manusia berada dalam kegelapan, syirik, kufur dan tidak mengenal Rabb pencipta mereka. Manusia mengalami krisis spiritual dan moral yang luar biasa.
Nilai-nilai kemanusiaan sudah terbalik. Penyembahan terhadap berhala-berhala menjadi suatu kehormatan, perzinahan adalah kebanggaan, mabuk dan judi adalah kejantanan, dan merampok serta membunuh adalah keberanian.
Di saat seperti itu, rahmat Ilahi memancar dari Jazirah Arab. Allah mengutus seorang Rasul yang ditunggu oleh alam semesta untuk menghentikan semua kerusakan ini dan membawanya kepada cahaya Ilahi. Kelahiran Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul pembawa risalah Islam ke tengah-tengah manusia, mampu menggantikan masa kegelapan dengan cahaya. Masa jahiliyah terkubur digantikan dengan lahirnya era baru, yakni masyarakat Islam.
Sejak itu, Nabi Muhammad menjadi pemimpin yang berhasil di segala bidang, ia memimpin umat di masjid, pemerintahan bahkan di medan pertempuran. Ia pemimpin yang mengantarkan pengikutnya ke alam keindahan suasana ilahiyah. Ia ibarat seorang dokter jiwa yang mengubah jiwa manusia sehingga memancarkan peradaban.
Rasulullah SAW merupakan sosok manusia dengan pribadi yang sangat agung, yang setiap gerak dan sikapnya penuh kebaikan dan kasih sayang. Meski tiada kata yang cukup mewakili untuk menggambarkan keluhuran budinya, bahkan sejarah tak akan mampu mengingkari betapa indahnya akhlak dan budi pekerti Rasulullah tercinta. Di sekelilingnya hadir generasi terbaik umat sekaligus menjadi generasi emas di sepanjang sejarah umat Islam yang telah mengantarkan era keemasan peradaban Islam hingga kini dan masa yang akan datang.
Generasi emas adalah generasi yang lahir dan menempa diri di sekolah-sekolah, kampus- kampus, dan karang taruna di negeri ini dengan landasan ideologi yang kuat. Mereka rela meninggalkan masa mudanya untuk dapat memikirkan apa yang terjadi di alam ini untuk kemaslahatan umat dan orang lain di sekitarnya. Mereka lebih mencintai masyarakatnya dibanding dirinya sendiri. Dan mereka dilahirkan oleh kondisi kritis yang ada di lingkungan mereka masing-masing.
Seperti halnya yang dikatakan oleh pemikir Mesir abad ini, bahwa generasi (kaum muda) yang lahir dalam lingkungan yang penuh dengan krisis, akan lebih bisa bertahan dan memiliki semangat perubahan yang lebih tinggi dibandingkan para generasi (kaum muda) yang lahir pada lingkungan yang penuh dengan kemudahan tanpa sedikit pun krisis menimpanya.
Generasi yang memiliki imunitas moral atau integritas moral yang tinggi inilah yang saat ini menjadi sebuah fenomena baru kebangkitan kaum muda. Bahwa bangsa ini dengan segala carut marut krisis multidimensi di segala bidang, hanya bisa di selesaikan dengan terlebih mementingkan perbaikan moral para kaum mudanya.
Dengan menanggalkan aspek sektarian, ternyata berdasarkan kajian ilmiah, bahwa benar sisi spiritual dapat mengembalikan khitah kaum muda sebagaimana mestinya seperti 81 tahun yang lalu saat sumpah kaum muda diikrarkan oleh para kaum muda Indonesia.
Mengambil tema Teladan Kepemimpinan Rasulullah SAW Membangun Generasi Emas, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) kembali akan mengadakan Festival Maulid Nusantara (FMN) IV.
Berbeda dengan FMN III, FMN IV ini akan diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Bangka Belitung atas dukungan Jakarta Islamic Centre yang akan dilaksanakan pada Senin hingga Ahad, 9- 15 Maret 2009 di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Sejumlah acara mulai dari prosesi Maulid Nusantara, pameran religi hingga Pelangi Peradaban, akan disajikan tanpa meninggalkan maksud dan tujuan awal penyelenggaraannya, yaitu menjadikan event Maulid sebagai sarana membangun keteladanan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dan untuk pertama kalinya dalam festival ini, juga diadakan program refleksi generasi emas untuk memberikan penghargaan bagi insan yang dalam karyanya sarat dengan nilainilai ilahiyah. Festival Maulid ini diharapkan menjadi inspirasi bagi para pemimpin bangsa untuk membangun peradaban dan melahirkan generasi emas yang memiliki nilai-nilai keteladanan Rasulullah sehingga mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dalam segala bidang.

Sombong dan Bodoh

Hikmah

Oleh Ahmad Fudholi

Sombong dan Bodoh

Al-Qur’an berulang kali memperingatkan agar manusia mengambil pelajaran dari pengalaman umat sebelumnya. Bagaimana umat-umat itu diberi nikmat yang banyak, negeri yang makmur, kekuatan fisik dan kekayaan yang melimpah, tapi mereka justru sombong dan berbuat kerusakan di muka bumi.

Diutuslah seorang nabi dari kaumnya sendiri untuk memberi peringatan agar mereka kembali ke jalan yang benar yang diridhai Allah SWT. Namun, mereka tetap sombong, ingkar, dan membangkang pada ajakan nabinya. Sebab itu, mereka diazab oleh Allah sebagai balasan dari perbuatannya itu, dan agar umat yang datang sesudahnya mengambil pelajaran dari kisahnya.

Namun, anehnya, umat sesudahnya tetap demikian. Mereka tetap gemar berbuat kerusakan, menabrak rambu-rambu agama, berbuat aniaya pada diri dan orang lain. Mereka juga mengingkari nikmat-nikmat Allah, membangkang pada nabinya, menentang dan bahkan membunuhnya. Akibat dari itu, Alah menurunkan azab atas mereka.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 11 diceriterakan pembangkangan orang-orang yang ingkar. “Dan ketika dikatakan pada mereka, ‘Janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi’ Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami berbuat kebaikan’.

Bantahan atas pembangkangannya itu, sesungguhnya menjerumuskan diri mereka sendiri pada lembaah kehinaan dan kehancuran serta penderitaan abadi. Karena, sesungguhnya mereka berbuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadarinya. Seperti yang dijelaskan pada ayat selanjutnya, “Ingatlah, sesungguhnya merekalah perusak-perusak itu, tetapi mereka tidak menyadarinya” (Al-Baqarah [2]:12).

Banyaknya noda-noda hitam atas perbuatannya telah menutup mata hati dan kesadaran mereka. Juga pengabdiannya pada nafsu secara berlebihan membuatnya buta. Mereka tidak sadar perbuatannya itu salah dan dapat membawa dirinya pada kehancuran.

Tentu kita semua berharap, agar umat sekarang tidak dimusnahkan Allah akibat perbuatan-perbuatannya itu, dan agar tidak terulang kembali pengalaman orang dahulu. Dan juga padea setiap orang yang bersalah, untuk bersegera kembali pada agama Allah dan mengikuti jejak rasul-Nya, agar kita semua selamat di dunia dan akhirat. Bahkan, keledai pun tidak akan terperosok dua kali kel lubang yang sama. (Dikutip dari REPUBLIKA - Kamis, 23 Agustus 2007 – 10 Sya’ban 1428 H)

Akhlak Generasi Mendatang

Pernik

[3417 Reads] Send this story to someonePrinter-friendly page

Cerminan Akhlak Generasi Mendatang

Posted by: al_ichsan on Monday, May 08, 2006 - 08:06

Hudzaifah.org - Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari aktivitas yang saya jalani kemarin. Sedikitnya ada dua kejadian yang bisa diambil pelajaran. Pelajaran yang bisa membuka mata kita betapa pentingnya generasi-generasi Muslim sejati.

Matahari sudah setengah menyengat di pagi hari itu, aku pun bergegas berangkat kekampus dengan menggunakan kendaraan umum. Kuberhentikan salah satu angkot yang melintas dan segera mencari tempat duduk yang nyaman. Tempat duduk favoritku di pojok belakang angkot kebetulan belum terisi, hanya ada seorang ibu berjilbab putih rapi yang membawa dua anaknya yang masih kecil-kecil. Satu anak perempuan yang kutaksir umurnya sekitar lima tahun dan yang satu lagi anak laki-laki yang pulas tertidur dalam gendongan si ibu, kelihatannya umurnya belum genap 1 tahun.

Aku duduk dihadapannya dan sempat beberapa kali memperhatikan bagaimana ia dengan repotnya mengatur anak-anaknya agar bisa tenang. Si anak perempuan beberapa kali mulai mengeluh sakit perut dan mual, mungkin dikarenakan angkot yang berjalan ugal-ugalan.

”Ma, perut aku sakit ma...” seru si anak perempuan sambil memegangi perutnya.
”Tahan ya nak, sebentar lagi sampai kok...”
”Tapi sakit sekali ma...”
”Mari sini mama beri minyak kayu putih.”
Si ibu membuka tasnya dan mengeluarkan sebotol minyak kayu putih dan kemudian dioleskan keperut anaknya sambil mengalihkan pembicaraan.
”Nak, nanti kalau sudah sampai kita beli apa ya yang enak?”
”Susu kotak saja, ma. Aku minta susu kotak...”
”Wah usul yang bagus, beli berapa kotak ya?”
”Dua saja ma, untuk aku dan adik.”

Kemudian pembicaraan antara anak dan ibu ini terus berlangsung sampai si anak benar-benar lupa akan sakit perut dan mualnya. Aku hanya menyaksikan dengan kagum betapa seorang ibu dengan cerdasnya mengasuh anaknya. Walau keadaannya sangat repot tapi senyum ikhlas tak pernah lepas dari wajahnya. Wajah yang teduh memayungi kedua buah hatinya. Aku pun mulai teringat kepada ibuku. Ah, betapa mulianya seorang ibu...

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. AL Ahqaf : 15)

*****

Hari terus berjalan dari jam ke jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Setelah menunaikkan ibadah shalat dzuhur kulangkahkan kakiku dari kampus menuju SDN 07 Jelambar dengan menggunakan motor yang telah kupinjam sebelumnya dari teman. Yup, agendaku berikutnya adalah mengajar bahasa Inggris kelas 6 SD, pelajaran yang sangat kusuka sedari kecil. Pertama kali mengajar anak-anak kecil terasa sangat melelahkan, bahkan lebih melelahkan dari pada mengajar sebagai assisten lab dan assisten dosen di kampus. Kesabaran sangat diuji disini. Selalu kupatrikan dalam diriku firman Allah yang ampuh menenangkan hatiku, ”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar.”

Pelajaran bahasa Inggris hari ini kumulai jam 13.00. Setelah kubuka dengan salam kubagikan foto copy-an yang sudah kusiapkan untuk mereka. Hari ini memang sudah kurencanakan untuk mengambil materi dari foto copy-an tersebut.

Aku belajar banyak dari perbedaan latar belakang sampai sifat murid-muridku ini. Beberapa waktu aku sempatkan untuk berbicara santai dengan mereka, dengan begitu aku bisa mengetahui karakter mereka. Ada beberapa hal yang aku sayangkan atas pribadi yang terbentuk dalam diri mereka. Misalnya beberapa dari mereka sudah pernah menonton film-film porno yang dijual bebas sedari kecil. Alasannya beragam ada yang mendapatkannya dari teman, membeli, atau bahkan milik orang tuanya.

Beberapa dari mereka juga mengaku juga sekolah madrasah selepas sekolah di SD. Paginya sekolah di SD dan sorenya di madrasah. Memang ada sedikit perbedaan antara anak madrasah dengan yang non madrasah. Ada juga dari mereka yang membantu orang tuanya sepulang sekolah. Anak dengan karakter ini cenderung baik dan suka membantu.

Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor pembentuk akhlak dan kepribadian seorang anak adalah:

1. Al Wiratsiyyah (Genetik)
Seorang anak berperilaku berdasarkan daerah tempat asalnya. Misalkan, anak-anak dari Sumatera Utara cenderung lebih keras dibandingkan anak-anak yang hidup dengan suasana suku Jawa ataupun Sunda.

2. An Nafsiyyah (Psikologis)
Faktor ini berdasarkan nilai-nilai yang ditanamkan atau diterima dalam keluarga. Misalkan, sangat berbeda karakter anak-anak yang orang tuanya sibuk bekerja dan kurang kasih sayang dengan anak-anak yang cukup mendapat kasih sayang dari orang tua. Atau misalkan, berbeda karakter antar anak-anak yang keluarganya utuh dengan anak-anak yang broken home.

3. Syari’ah Ijtima’iyyah (Lingkungan sosial)
Faktor lingkungan bermain mereka juga sangat berpengaruh dalam pertumbuhan karakter.

4. Al Qiyam (Nilai islam)
Faktor pembentukan nilai-nilai Islam sudah seharusnya diterima oleh anak-anak sedari mereka kecil. ”Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam dan sesungguhnya sebaik-baik manusia keislamannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Thabrani, Ahmad dan Abu Ya’la)

”Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah : 128). Wallahua’lam bishawab. [DAI]

Copy paste dari: http://www.hudzaifah.org/Article359.phtml