Minggu, 04 Desember 2011

PENTINGNYA AIR PURIH SEBELUM DAN SETELAH TIDUR

16 April 2011 12:30 WIB
Pentingnya Air Putih Sebelum dan Setelah Tidur
Penulis : prita Daneswari
faithfreedom.org
TAK hanya akan mempercantik kulit, mengkonsumsi air putih secara teratur juga bermanfaat untuk membersihkan tubuh dari racun. Namun, sayangnya masih banyak orang yang melupakan salah satu bagian penting untuk tubuh ini.
Banyak yang mengabaikan konsumsi air putih, termasuk kala bangun tidur. Apa sih manfaat dari meminum air putih saat bangun tidur? Selama kita tertidur, tubuh mengeluarkan banyak cairan melalui penguapan. Hal itu terjadi karena aktivitas tubuh saat tidur tidak berhenti bekerja. Metabolisme sel terus berjalan dan cairan sel tubuh membantunya.
Jadi, setelah 6-8 jam tertidur, tubuh bisa mengalami defisit air karena dalam proses metabolisme sel ada cairan yang terbuang. Bila kita tak meminum air setelah bangun tidur, tubuh juga bisa kekurangan mineral. Cukup segelas air putih setelah bangun akan sangat bermanfaat bagi tubuh. Sebanyak 70 persen tubuh kita terdiri dari air. Air dalam tubuh digunakan oleh organ-organ tubuh yang tidak pernah berhenti bekerja selama tidur, termasuk otak, jantung, dan ginjal. Jadi setelah bangun, dianjurkan untuk minum air.
Sebenarnya tak hanya setelah bangun, kita juga harus minum air putih sebelum tidur. Tidak perlu terlalu banyak karena konsumsi air yang berlebihan dapat memicu kita untuk lebih sering ke kamar kecil. Juga, berakibat buruk terhadap fungsi jantung dan ginjal.
Namun, yang juga perlu diingat yakni pemilihan air minum. Air minum harus memenuhi aspek kesehatan. Air pada umumnya terdiri dari H2O, tapi tubuh juga perlu air yang mengandung mineral (natrium, kalium, klorin) agar otot mudah bergerak. (Pri/OL-06)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2011/04/16/3971/3/Pentingnya-Air-Putih-Sebelum-dan-Setelah-Tidur

Kamis, 01 Desember 2011

Tahun Baru Islam Harus Dimasyarakatkan

Monday, 28 November 2011 06:56

Tahun Baru Islam harus dimasyarakatkan

Warta

INDRA WIDYASTUTI
WASPADA ONLINE
MEDAN - Sejumlah kegiatan dilakukan untuk memperingati Tahun Baru Islam. Hal ini untuk memasyarakatkan Tahun Baru Islam, sebab tahun baru Islam sangat jarang dirayakan seperti tahun baru masehi.

“Kegiatan ini dalam rangka menyambut dan memeriahkan tahun baru Islam 1433H. Selama ini ada kenderungan umat Islam justru lebih memeriahkan tahun baru agama lain dibanding tahun barunya sendiri. Padahal, umat Islam sendiri memiliki tahun baru atau kalender sendiri, yang merupakan tahun kemenangan dan kebangkitan bagi umat Islam, masyarakat arab serta semenanjung Arabia,” kata Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) SUmut, Abdullah Syah, tadi malam.

Dia menambahkan, hijrah ini merupakan tonggak kemenangan dan kebangkitan bagi umat Islam. Ini juga merupakan sejarah hijrah di Madina. “Madina menjadi tegaknya Islam pertama yang sempurna. Dengan membangun hubungan masyarakat yang harmonis dan kerukunan antara umat beragama," sebutnya.

"Melalui hijrah ini pula, bisa mengembalikan akhlakul karimah sehingga umat berakhlak kembali. Agar tidak terjadi tawuran, tidak saling memburukkan, namun melainkan saling menopang," imbuhnya.

Abdullah Syah menuturkan, dulu, masyarakat Arab dan semenanjung Arab juga hidup dalam keadaan yang tidak punya pedoman, aturan dan adat istiadat yang baik. ”Mereka cenderung berperang satu suku dengan yang lain. Saling berlomba berbuat kemaksiatan dan peradaban yang terbelakang,” bebernya.

Oleh karena itu, lanjutnya, melalui peringatan tahun baru Hijriah ini, umat Islam diajak merubah adat istiadat dengan akhlak yang mulia dan peradaban serta aturan yang adil. Hijrah ini, sebutnya, merupakan tonggak kemenangan dan kebangkitan bagi umat Islam. Ini juga merupakan sejarah hijrah di Madina.

Sejumlah kegiatan yang digelar hari ini adalah gerak jalan hijrah dari Lapangan Merdeka Medan dan pawai sepeda dari Masjid Raya Medan ke Masjid Raya Labuhan

Sumber: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=225163:tahun-baru-islam-harus-dimasyarakatkan&catid=77:fokusutama&Itemid=131

Hijrah dari Introspeksi Hingga Reformasi

Home » Opini
Hijrah, dari Introspeksi Hingga Reformasi
Sriwijaya Post - Jumat, 2 Desember 2011 08:41 WIB
H Abdul Rahman S.Ag, M.Pdi

“Siapa yang berpindah pada jalan Allah, niscaya akan diperolehnya di bumi ini (tempat ia pindah) rezeki yang banyak (dan ketentraman). Siapa yang keluar rumahnya untuk hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia meninggal (di tengah jalan), maka sesungguhnya pahalanya sudah dijamin Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisaa’ (4):100).

SETIAP tahun umat Islam di seluruh dunia menyambut baik dan hangat serta sukacita peringatan Tahun Baru Hijriah (1 Muharam). Kendati sambutannya tidak terlalu semarak jika dibandingkan dengan peringaatan Tahun Baru Masehi (1 Januari). Sungguhpun demikian, sebagian umat Islam masih memiliki perasaan keagamaan yang kuat sehingga mereka memperingatinya dengan zikir dan pikir serta penuh optimisme sembari berharap ada perubahan hidup ke arah yang lebih baik pada masa yang akan datang.

Bagi umat Islam, bulan Muharam memiliki makna yang sangat besar dalam sejarah penyelamatan akidah umat, yakni saat Rasulullah SAW mengawali hijrah dari Makkah ke Madinah Al-Munawarah. Peristiwa yang terjadi pada tahun 622 M itu adalah awal mula ditetapkannya kalender hijriah yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Karena itu, setiap tanggal 1 Muharam ditetapkan sebagai awal Tahun Baru Islam.

Perhitungan tahun hijriah didasarkan pada peredaran rembulan mengelilingi bumi. Maka itu disebut juga Kalender Qamariyah. Satu kali peredarannya rata-rata 29 hari 12 jam 44 menit dan 2,5 detik. Jadi dalam 12 bulan atau satu tahun rata-rata 354 hari 8 jam 48 menit dan 30 detik.

Dengan demikian dasar perhitungan tahun hijriah berbeda dengan tahun masehi. Berbeda pula model perhitungannya. Tahun masehi dimulai dari satu tahun kemudian dibagi menjadi 12 bulan, sedangkan tahun hijriah dimulai dari satuan bulan kemudian setelah genap 12 bulan disebut satu tahun.
Peredaran rembulan itu tidak terjadi pada satuan hari yang bulat melainkan ada lebihnya yaitu 12 jam 44 menit 2,5 detik atau lebih dari setengah hari. Makanya, umur bulan dalam tahun hijriah itu berselang-seling antara 30 hari dan 29 hari.

Muharam misalnya, jumlah harinya 30, Shafar 29 hari sedangkan Rabiul Awwal 30 hari. Rabiul Akhir? Ada 29 hari, Jumadal Ula 30 hari, Jumadats Tsaniyah 29 hari, Rajab 30 hari, Sya’ban 29 hari, Ramadhan 30 hari, Syawwal 29 hari, Dzulqa’dah 30 hari dan Dzulhijjah 29 atau 30 hari.

Kalau umur bulan hijriah itu selang-seling 30 hari dan 29 hari, maka dalam setiap bulan ada sisa 44 menit 2,5 detik. Ini akan menjadi 8 jam 48 menit 30 detik dalam satu tahun. Kelebihan ini akan mencapai 11 hari lebih dalam 30 tahun. Itulah sebabnya maka dalam setiap 30 tahun diadakan 11 tahun kabisat dan 19 tahun basithah. Tahun kabisat itu jatuh pada tahun ke 2,5,7,10,13,15, 18,21, 24,26 dan 29. Selama 30 tahun itu disebut satu daur.

Pergantian tanggal disesuaikan dengan pergantian hari. Pergantian hari dalam tahun hijriah terjadi kala matahari terbenam. Jadi nama hari itu dari malamnya bukan siang, bukan mulai dari tengah malam hingga tengah malam berikutnya. (Warta Dakwah No 11/Tahun X/Desember 2010).

Seperti diketahui, sebelum berhijrah, Nabi Muhammad SAW dan umat Islam yang berada di kota Makkah mendapatkan berbagai ujian dan cobaan yang tiada henti-hentinya. Ujian itu datang dari Allah SWT (pasca wafatnya Ali bin Abi Thalib dan isteri Rasulullah SAW bernama Khadijah binti Khuwailid) diiringi gangguan kaum kafir Quraisy.

Nabi Muhammad SAW sedang bersedih, berduka. Orang-orang kafir Quraisy pun mengolok-oloknya. “Muhammad telah ditinggalkan oleh tuhannya.” Beliau kesepian. Hatinya terasa kering karena beberapa lama wahyu baru yang ditunggu tak kunjung datang.

Dalam keguncangan jiwa itu, turunlah surat Ad-Dhuha. Di dalam ayat ke-5 surat itu, Allah SWT berfirman: “Kelak, Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Apa yang dijanjikan Allah SWT dalam surat Ad-Dhuha itu tercapai beberapa tahun setelah hijrah. Tepatnya, tahun ke-10 H. Rasulullah SAW berhasil merebut kota Makkah, kota yang sangat beliau cintai karena kesuciannya.

Kemenangan itu juga dijanjikan oleh Allah SWT dalam QS Al-Qashash 28):85 : “Sesungguhnya, Dia (Allah) yang telah menjadikan ajaran Alquran sebagai panggilan kewajiban atas engkau (Muhammad) tentulah akan mengembalikan engkau ke tempat asalmu (Makkah). Katakanlah, “Tuhanku lebih tahu siapa yang dapat petunjuk dan siapa pula yang terang dalam kesesatan.” (Islam Digest Edisi Ahad, 2 dan 12 Desember 2010).

Hijrah dalam arti mengintensifkan segala daya dan upaya untuk memperbaiki diri dan bangsa perlu ditonjolkan sebagai titik tolak terjadinya proses monumental (dalam Islam) sehingga menjadi nilai universal. Jadi hal yang lumrah bila hijrah seyogianya dimaknai dari keinginan dan kesadaran untuk mengevaluasi (introspeksi) diri yang pada gilirannya menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik (reformasi).

Introspeksi merupakan peninjauan atau koreksi terhadap sikap, perbuatan, kelemahan dan kesalahan diri. Ia merupakan salah satu bentuk analisa kritis terhadap apa yang telah diucapkan atau dilakukan. Dengan berintrospeksi orang dapat mawas diri, tidak mengedepankan keakuannya dan tidak menafikan eksistensi orang lain. Melalui introspeksi kita akan mampu menemukan makna dari setiap tujuan yang kita miliki dan akan semakin memastikan apakah tujuan yang telah kita tetapkan sebelumnya sudah terarah atau belum.

Setelah mengintrospeksi diri (dalam bahasa agama disebut dengan muhasabah) maka (semangat Tahun Baru Hijriah) dilanjutkan dengan usaha untuk memperbaiki diri, melakukan pembenahan dan perubahan ke arah yang positif dan produktif. Untuk tujuan itu, Allah SWT sudah menegaskan agar setiap kita hendaklah mengadakan muhasabah berkaitan dengan apa yang telah dilakukan.

Firman-Nya: “Waltanzhur nafsun ma qaddamat lighad.” (Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (hari akhirat).” (QS Al-Hasyr 18). Ayat ini menunjukkan bahwa setiap manusia senantiasa mengintrospeksi dirinya guna mencapai derajat yang lebih baik.

Reformasi
Dalam konteks kekinian istilah hijrah dapat diidentikkan dengan proses reformasi. Reformasi yang tidak hanya sebatas mengganti orang, namun reformasi yang diusung dengan semangat hijrah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (terutama kaum muslimin), reformasi yang ditandai juga dengan adanya keinginan dan tekad yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik.

Berhijrah dari pemikiran ke pengamalan, dari sekadar teoritis menjadi praktis, dari pesimistis menjadi realistis, merubah dari semangat melakukan korupsi kepada semangat mengabdi, dari semangat mendengki kepada semangat bertoleransi, dari sikap malas kepada sikap kerja keras, berhijrah dari perbuatan munkar kepada ma’ruf. Hijrah dari yang salah (batil) kepada yang benar (haq), dari syirik menuju tauhid, dari berbuat dosa menjadi beramal ibadah, dari kebebasan menjadi tanggung jawab dan dari umat jahiliyah menjadi umat berhidayah.

Begitu juga dengan reformasi dalam hal agama dan keyakinan. Kebanyakan dari kita hanya mengenal Allah SWT sebatas apa yang dimengerti dan diterima menurut akal sehat dan bukan didasarkan atas pengalaman kita ketika bergaul dengan Dia melalui firman-Nya, dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, dalam Alquranul karim diinformasikan bahwa ternyata ada sebagian manusia yang mengklaim diri beriman kepada Allah Taala padahal Dia menegaskan mereka justru tidak beriman (QS Al-Baqarah 8) karena pemikiran dan perilaku mereka yang tidak mencerminkan golongan orang-orang yang berpredikat iman kepada Allah SWT. Cirinya adalah mengelabui manusia (berdusta) (QS Al-Baqarah 10), mengaku reformis padahal ia berbuat anarkis (QS Al-Baqarah 11-12).

Hijrah dalam arti fisik (mungkin) tidak diperlukan lagi, namun hijrah dalam arti nilai (value) yang mesti diperjuangkan justru tetap harus dipelihara dari waktu ke waktu secara konsisten. Negara dan bangsa ini terus larut dalam krisis multidimensi yang berkepanjangan antara lain karena ketiadaan semangat hijrah.

Secara normatif hijrah merupakan simbol yang memberi motivasi kuat bagi manusia dalam upaya mencapai kehidupan dan kemakmuran yang lebih baik sebagaimana yang dijanjikan-Nya, “Wa man yuhajir fi sabilillah yajid fi al-ardhi muroghoman katsiron wasa’atan (Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak).” (QS An-Nisaa’ 100).

Semoga semangat hijriah ini dapat membangkitkan kesadaran kita dalam mengintrospeksi diri untuk selanjutnya melakukan ishlah (reformasi) perubahan ke arah yang lebih baik. Karena dengan cara itulah kita menjadi manusia, hamba Allah yang beruntung. “Man kana yaumuhu khoiron min amsihi fahuwa robih (0rang yang pada hari ini lebih baik (ibadah dan ukhuwwahnya) dari hari kemarin maka dialah orang yang beruntung.” (Alhadist). Wallahu A’lam.

Sumber : Sriwijaya Post


Sumber: http://palembang.tribunnews.com/2011/12/02/hijrah-dari-introspeksi-hingga-reformasi

Tahun Baru 1433 Hijriyah Merangkai Hidup yang Reflektif - Optimistik

Mimbar Islam - Hari ini Pkl. 07:47 WIB
Tahun Baru 1433 Hijriyah; Merangkai Hidup yang Reflektif-Optimistik
Oleh : Drs. H. Ahmad Bangun Nst, MA.

Alhamdulillah, kita masih diberikan kembali oleh Allah masuk ke tahun baru Hijriyah 1433 H. Banyak cara setiap manusia untuk mengapresiasikan diri dalam menghadapi gemerlap tahun baru. Bukan saja di Indonesia, bahkan diseluruh penjuru dunia pun memiliki cara yang beragam dalam menghadapi tahun baru. Tidak sedikit orang yang membuat planning hidup kedepan yang lebih baik, tidak sedikit pula yang menganggap waktu akan tetap berlalu dan tidak perlu kiat khusus untuk menyusun strategi dan perencanaan hidup kedepannya. Apapun itu, yang terpenting adalah usaha dan keinginan yang kuat diiringi dengan keseriusan untuk menjadikan hidup lebih bernilai di masa mendatang.
Akan menjadi sebuah penyesalan yang dalam jika nuansa kepedulian terhadap nilai nilai keislaman tidak berbekas secara utuh bagi sebagian besar umat Islam. Hingga nilai dan pesan hari hari besar Islam khususnya tahun baru Hijriyah kali ini jarang disambut secara utuh dan tepat.

Bisa dicontohkan dengan perayaan tahun baru masehi yang hampir setiap orang diseluruh penjuru dunia ini turut serta merayakan dengan gemerlapnya seremoni penyambutan tahun baru tersebut. Tidak jarang pula momen tahun baru tersebut dijadikan sebagai bagian introspeksi diri, evaluasi hidup dan merencanakan segenap agenda hidup di masa mendatang. Padahal jika hal tersebut dilakukan pada momen islami seperti perayaan tahun baru Islam, tentunya akan lebih menyemarakkan dan memasyarakatkan nilai nilai Islam di tengah-tengah umat manusia.

Tahun Baru Hijriyah; Menuju Introspeksi Hakiki.

Dalam Islam tidak pernah diajarkan untuk memilih milih tempat dan waktu dalam melakukan sebuah kebaikan. Begitu juga ketika momen tahun baru hijriah 1433 kali ini, harus dijadikan sebagai alat untuk introspeksi dan evaluasi diri, sebelum melanjutkan fase hidup dengan beragam planning hidup kedepannya. Setiap manusia yang mampu menggunakan dan memanfaatkan waktunya untuk berintrospeksi diri menuju kebaikan, maka dia sesungguhnya termasuk orang yang beruntung.

Sebuah cerita yang dikutip dari buku yang bertajuk "Hadiah Terindah" yang ditulis oleh Dessy Danarti bahwa ada seorang anak yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, akan selalu cepat menemukan kesalahan orang lain sekecil apapun itu... pada suatu hari, si anak berjalan jalan di pinggir hutan, ia melihat ada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya dengan penuh madu, wah.., madu itu pasti sangat manis gumam anak tersebut.., tanpa berfikir panjang si anak langsung mengambil sebuah galah dan menyodok sarang tersebut. Spontan lebah itu berserakan dan mengejar si anak yang mengganggu lebah lebah tersebut. Si anak berlari dengan sekencang-kencangnya, sementara ayahnya hanya diam melihatnya di kejar lebah-lebah tersebut. Hingga akhirnya si anak lompat ke sebuah sungai. Lebah lebah tersebut pun pergi karena tidak lagi melihat si anak tadi yang sedang menyelam dalam air.

Setelah merasa aman, si anak naik ke daratan dan langsung meyalahkan ayahnya "ayah.., kenapa ayah diam saja tidak berusaha menolong aku.. " ayahnya diam sejenak, lalu mengambil secarik kertas putih, lalu si ayah bertanya kepada anaknya. Apa yang kau lihat nak.., secarik kertas putih.. jawabnya. Lalu si ayah membuat sebuah titik berwarna hitam di kertas putih itu. Dan si ayah bertanya kembali, apa yang kau lihat anakku.., lalu si anak menjawab ada titik hitam di kertas putih itu.

Si ayah pun berkata "anakku, mengapa kau hanya melihat satu titik hitam, pada kertas putih ini - padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan ayah. Padahal masih banyak hal baik yang telah ayah lakukan untukmu.

Cerita tersebut tentunya memberi gambaran tentang kecenderungan manusia yang sering menyoroti hal hal yang tidak biasa. Termasuk sering menyalahkan orang lain, berburuk sangka terhadap orang lain dan semacamnya. Padahal jauh dari itu semua, banyak hal hal baik yang tentunya sudah kita rasakan, dapatkan dari orang yang sering kita anggap buruk tersebut.

Jika ingin menggunakan momen tahun baru hijriah ini sebagai alat introspeksi diri, maka ada baiknya untuk introspeksi diri dari kepekaan diri terhadap kesalahan orang lain. Keterbiasaan diri merasa benar dalam setiap tingkah laku dan kebijakan-kebijakan yang dibuat yang terkadang sering membuat orang lain kecewa, sakit hati dan tidak nyaman untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan kita.

Introspeksi diri dari hal yang sia sia, Introspeksi diri dari kebutaan dan kelalaian diri. Hal ini berkaitan erat dengan apa yang disampaikan Allah dalam surat Al Ashr "demi masa, sesungguhnya semua manusia dalam keadaan yang rugi, kecuali orang orang yang beriman dan beramal shaleh, saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan saling mengingati dalam hal kesabaran " dua hal yang menjadi pesan ayat ini. Pertama tentang mengingat masa yang semakin hari semakin menyempit. Yang kedua, saling peduli terhadap sesama manusia dengan saling ingat mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran sebagai buah dari perjuangan dan pemaknaan waktu yang kita miliki tersebut.

Tahun Baru Hijriyah; Refresh Life Motivation.

Hal lain yang juga bisa dimanfaatkan dalam momen tahun baru kali ini adalah me-refresh, menyegarkan kembali motivasi hidup dan planning menuju masa depan yang lebih bertujuan. Senada dengan ungkapan bijak "beramallah kamu untuk dunia mu seolah olah kamu hidup selamanya, beramallah kamu untuk akhirat mu seolah olah kamu akan mati esok". Hal ini juga berkaitan apa yang dijelaskan dalam Al Qur’an "tidak aku ubah suatu kaum selama mereka tidak merubah dirinya sendiri.".

Ayat dan ungkapan bijak tersebut tentunya menjadi sinyal kuat akan pentingnya sebuah kepedulian terhadap diri dan motivasi serta planningnya untuk masa yang akan datang. Setelah mengkilas balik, mengintrospeksi dan mengevaluasi diri, maka langkah selanjutnya adalah beranjak dari kesalahan, kelalaian masa lalu untuk menutupinya dengan rencana besar di masa mendatang. Tentunya tetap dalam kaidah ajaran keislaman. Tetap dengan motivasi ibadah dan tetap meyakini akan kebesaran Allah diatas segala usaha yang dilakukan.***

Penulis adalah Kepala Sekolah MAL dan Dosen Fak, Tarbiyah IAIN SU
Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2011/12/02/24287/tahun_baru_1433_hijriyah_merangkai_hidup_yang_reflektifoptimistik/#.TthnvGP3XIs

Urgensi Tahun Baru Hijriyah bagi Pemuda

Mimbar Islam - Hari ini Pkl. 07:49 WIB
Urgensi Tahun Baru 1433 Hijriyah bagi Pemuda
Oleh : M. Syukri Albani Nst, SH.I, MA.

Kita telah memasuki Tahun baru Hijriyah 1433, dan pergantian tahun yang menandakan berjalannya waktu ini harus menjadi momen untuk memacu diri menjadi lebih baik dengan motivasi baru yang terlahir dalam kehidupan. Tidak banyak orang yang menjadikan momen penting seperti ini sebagai bahan evaluasi dan iktibar bagi kehidupannya. Acara seremoni tanpa makna kerap dilakukan. Setelah itu, kehidupannya pun kembali seperti dahulu, tetap dalam kesalahan, mempertahankan kekurangan, dan berpasrah ria dalam kelemahan. Padahal, waktu dan kesempatan selalu terbuka untuk melakukan hal baru yang lebih baik.
"Hayaatul Adyan fi Yadi Shobban" Hidupnya Negara di Tangan Pemuda. Waktu akan tetap bergerak, sementara yang terlewat tidak akan pernah kembali. Itulah kalimat sederhana yang bisa menjadi awal refleksi diri melihat kehidupan setahun kemarin, demi menuju setahun yang akan datang. Tentunya akan banyak nilai positif yang sudah dilakukan, meski tidak terlepas begitu banyak juga nilai negatif yang masih diperbuat. Namun, nilai bijak seorang manusia, akan terletak pada seberapa besar keinginan dan kesungguhannya merubah perbuatan buruk menjadi perbuatan yang baik. Perbuatan yang belum sempurna, dengan menyempurnakannya.

Ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam setiap kehidupan manusia, diantaranya motivasi beribadah dan baik di mata Allah. Motivasi berjuang dan berkreasi dalam kehidupan dunia ini, nilainya adalah prestasi, karir dan kebahagiaan. Serta motivasi untuk menjadi manusia yang lebih matang dalam menyikapi hidup. Suka duka akan silih berganti datang dalam kehidupan ini. Memaknai semuanya hanya dengan kedewasaan bersikap dan kematangan berfikir. Tidak marah ketika berduka, dan tidak bergembira dan lupa karena suka dan senang. Semuanya tetap terbungkus dalam kematangan menyikapi hidup ini.
Allah dalam Surat Al Ashr. Menegaskan "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu selalu dalam kerugian. Kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Dan saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran". Motivasi waktu seharusnya menjadi cambuk tajam bagi manusia untuk terus berpacu dalam kompetisi hidup ini. Dalam beribadah juga berkompetisi. Dalam berkarya di dunia ini juga harus berkompetisi. Kita sedang berkompetisi dengan kemalasan diri, dengan keegoan diri. Dan dengan ketidak yakinan akan sesuatu yang ingin kita capai. Semuanya tergantung dari cara kita menyikapi hidup ini dalam waktu.

Pada Tahun 1432 H. lalu, berapa banyak kekurangan dan kelemahan diri kita. Baik itu dalam ibadah maupun dalam prestasi masa depan. Tahun 1433 Hijriyah ini, apa yang harus dicapai demi meminimalisir kelemahan dan kekurangan itu. Demi menghilangkan kekurangan itu. Usaha apa yang dilakukan, dan seberapa besar konsistensi untuk merubah itu semua. Yang terakhir, dengan cara apa mempertahankan prestasi dan keberhasilan yang sudah kita raih selama ini.

Selanjutnya, motivasi untuk konsisten dalam berprestasi, baik dalam pendidikan dan pekerjaan. Tidak mundur dengan keadaan dan tetap berniat untuk sampai tujuan walau apapun yang akan terjadi. Menarik apa yang dituliskan Parlindungan Marpaung dalam bukunya Setengah Isi Setengah Kosong. Pada halaman 96 ia menceritakan tentang Julius Cesar, seorang pemimpin perang yang terkenal. Pada suatu masa, ketika mereka hendak menyerang sebuah daerah melalui jalan laut. Setibanya di tempat tujuan pada malam hari, pada saat anak buahnya sedang sibuk menyimpan kapal yang mereka kendarai agar tidak kelihatan musuh, ketika itu pula Cesar menyuruh anak buahnya agar membakar semua kapal yang mereka kendarai. Sambil terheran, para anak buahnya membakar semua kapal itu sesuai dengan perintah Cesar.

Apa maksud Cesar pada saat itu..?, tidak lain hanyalah agar anak buahnya tidak memikirkan pulang sebelum perang usai, agar semua anak buahnya maksimal bertarung. Sebab mau tidak mau, mereka harus merebut daerah itu karena kenderaan untuk pulang sudah tidak ada lagi. Dan agar semua prajuritnya tidak bermental menyerah. Dalam perjuangan itu harus maksimal sampai titik darah yang terakhir.

Begitu juga motivasi untuk maksimal dalam berkarya, bekerja dan berpendidikan. Jadikan penghalang itu menjadi cambuk untuk bisa berhasil. Jangan mau menyerah di tengah jalan. Dan tetap konsisten, apapun hasilnya, ketika perjuangan sudah maksimal, maka itulah nilai yang terbaik. Awal tahun 1433 Hijriyah ini harus menjadi salah satu motivasi untuk menjadi lebih baik dalam segala hal. Terlebih dalam beribadah. Dalam bersyukur dan dalam meyakini kekuasaan Allah sebagai sang maha pemberi takdir kehidupan manusia.

Menarik juga apa yang dituliskan DR. Akram Rida dalam buku Making Choice. Menurutnya, dalam hidup, manusia harus berani mengambil sikap yang terbaik, meski waktu tidak mendukung dan kesempatan tidak mendukung. Hal ini ia jelaskan melalui cerita Khalid bin Walid ketika secara tiba-tiba ditunjuk oleh rakyatnya menjadi panglima perang yang baru setelah panglima perang sebelumnya telah gugur di medan perang. Mau tidak mau, dengan sepenuh keyakinan, Khalid bin Walid menemui permintaan itu. Beranjak dari keyakinan dan pertolongan itu, akhirnya ia sukses menjadi seorang pemimpin perang terbukti, sampai saat ini dalam kancah sejarah, ia terkenal sebagai panglima perang yang handal dan strategis.

Begitu juga dalam menjalani kehidupan ini. Ada kalanya, semangat baru itu akan timbul manakala sesuatu yang kita harapkan itu ada pada saat itu, bisa juga karena ada tujuan yang memang sangat diinginkan. Dan adakalanya juga motivasi itu hadir ketika merasa bahwa hidup ini harus menjadi lebih baik di moment tahun baru ini. Merenungi waktu yang telah lewat tidak akan lagi kembali, maka, jangan sia-siakan waktu depan yang juga akan kita alami.

Kegagalan dan kesalahan di tahun kemarin, harus menjadi cambuk menjadikan hari depan lebih baik lagi. Jangan sampai ada kepesimisan dalam hidup, dalam beribadah, dalam berkarir dan dalam belajar. Hidup bagai roda yang berputar akan menjadi analisis filosofi yang cukup ampuh untuk bersemangat kembali meraih hidup yang lebih baik lagi.

Semoga di tahun baru Hijriyah 1433 ini kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, baik di hadapan sesama manusia terlebih di hadapan Allah.***

(Penulis adalah Dosen Fak, Syariah IAIN SU, Sekr. Eksekutif Lembaga Baca Tulis eLBeTe)
Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2011/12/02/24289/urgensi_tahun_baru_1433_hijriyah_bagi_pemuda/#.TthonmP3XIs

Jatidiri Remaja

Gersang Bumi Tanpa Hujan, Gersang Minda Tanpa Ilmu,
Gersang Hati Tanpa Iman, Gersang Jiwa Tanpa Amal.

Jatidiri Remaja

Setiap remaja harus mempersiapkan diri sebagai khalifah Allah. Mereka harus mempunyai tujuan dan kesungguhan sebagai insan yang taat dan kreatif. Tujuan hidup yang tidak bercanggah dengan kehendak Islam hendaklah disemai ke dalam diri seorang remaja jika mereka mahu berjaya dan maju sebagai generasi yang cemerlang dan diberkati.

Pengendalian Diri

Remaja memerlukan pengendalian diri kerana remaja belum mempunyai pengalaman yang memadai dalam perkara ini. Masa remaja banyak menyentuh perasaan seorang remaja sehingga menimbulkan jiwa yang sensitif dan peka terhadap diri dan lingkungannya. Perkembangan ini ditandai dengan cepatnya pertumbuhan fizikal dan seksual. Akibat dari pertumbuhan fizikal dan seksual yang cepat itu maka timbullah kegoncangan dan kebingungan dalam diri remaja, khususnya dalam memahami hubungan lain jenis.

Dari keadaan yang dihadapi remaja ini akan menimbulkan dua masalah. Pertama dorongan seksual kerana ingin membuktikan bahawa diri telah dewasa sehingga berakhlak yang kurang sopan di tengah masyarakat, sehingga orang ramai menilai bahawa remaja hanya menimbulkan masalah. Padahal ketika itu remaja sedang meraba-raba dalam mencari jatidirinya.Kedua, mungkin juga remaja hilang kendali dalam dirinya sehingga lebih cenderung mengikuti nafsunya itu, ataupun remaja lebih suka menyendiri dan menutup diri.

Remaja yang merasakan bahawa fizikalnya sudah seperti orang dewasa sehingga ia merasa pula harus bersikap seperti orang dewasa untuk menutup keadaan dirinya yang sebenar harus memahami bahawa anggapannya itu hanya sekadar imitasi atau peniruan. Untuk itu remaja harus pandai mengendalikan diri dalam menghadapi dunia yang penuh dengan pancaroba dan gejolak ini. Hindarilah dari hanya mengikut kehendak hati, tapi gunakanlah fikiran agar setiap keputusan yang diambil benar-benar mengikuti citarasa ibu bapa, masyarakat dan agama.

Rasa Kebebasan Remaja

Pada usia remaja sangat memerlukan kebebasan emosional dan material. Kematangan dalam bidang fizikal atau tubuh mendorong remaja untuk berdikari dan bebas dalam mengambil keputusan untuk dirinya sehingga remaja terlepas dari emosi ibu bapa dan keluarga. Ramai ibu bapa tidak memahami keinginan yang tersimpan di dalam jiwa remaja, sehingga membatasi sikap, keperibadian dan tindakan-tindakan mereka, dengan alasan merasa belas kasihan dan lain-lain. Dengan cara ibu bapa sedemikian remaja merasa dirinya tidak dipercayai oleh orang tuanya, akibatnya remaja yang tidak memahami akan hakikat dirinya sendiri akan memberontak dan melawan kepada kedua ibu bapa.

Remaja yang beriman akan mengerti bahawa rasa kebebasan yang timbul dari dalam dirinya itu bukan selamanya harus dituruti, tetapi harus diatasi dengan cara yang bijaksana. Memang betul dalam satu aspek remaja memerlukan kebebasan untuk menentukan keputusannya, namun dari aspek lain remaja masih memerlukan orang tua untuk membimbing dan memberi tunjuk ajar kepadanya. Jadi berfikirlah secara positif agar tuntutan dalam diri itu tidak mengalahkan tuntutan dan kehendak mulia orang tua terhadap diri anaknya. Jika ini dapat diatur secara efektif maka tidak akan timbul konflik kejiwaan dalam diri seorang remaja.

Rasa Kekeluargaan Remaja

Sebetulnya keperluan remaja terhadap kebebasan diri sendiri dan ingin berdikari itu bertentangan dengan keperluannya untuk bergantung terhadap ibu bapanya. Gejolak jiwa tersebut membuat remaja merasa tidak aman, kerana dari satu aspek ia sangat memerlukan keluarganya, namun dari segi yang lain dia ingin berdakari. Pengalaman kejiwaan semacam ini menyebabkan remaja menjadi bingung dan tidak menentu. Bagi remaja yang mengerti peristiwa yang sedang menimpa jiwanya dia akan berhati-hati dalam mengmbil sebarang tindakan, sehingga ia akan menjadi remaja yang tidak tertekan perasaan.

Rasa kekeluargaan dalam diri remaja ini bukan saja terjadi dalam lingkungan ibu bapa dan sanak saudara, tetapi juga pada kelompok teman seperjuangan, organisasi, sukan dan lain-lain. Jika perasaan ini disemai dengan baik, maka remaja tidak akan mengalami stres dan tekanan perasaan dan menjadikan kecenderungan jiwanya itu ke arah yang positif.

Kehidupan Sosial Remaja

Remaja sangat memerlukan agar kehadirannya diterima oleh orang-orang yang ada dalam lingkungannya, di rumah, di sekolah ataupun dalam masyarakat di mana ia tinggal. Rasa diterima kehadirannya oleh semua pihak ini menyebabkan remaja merasa aman, kerana ia merasa bahawa ada dukungan dan perhatian terhadap dirinya. Perkara ini merupakan motivasi yang baik bagi diri remaja untuk lebih berjaya dalam menghadapi kehidupannya.

Penerimaan masyarakat terhadap diri seseorang berperanan dalam mewujudkan kematangan emosi. Pada umumnya remaja sangat peka terhadap pujian dan cacian disekitarnya sehingga menyebabkan remaja mudah tersinggung. Jika ini terjadi remaja hendaklah memahami bahawa tidak semua manusia itu dalam keadaan serba baik, kemungkinan kesilapan yang dilalakukan oleh masyarakat sekitar itu dapat mendorong kita lebih matang dalam menghadapi masalah. Remaja juga harus menyedari, kemungkinan juga cacian dan celaan itu timbul kerana kesalahan dari pihak remaja sendiri. Bagi remaja yang beriman akan menghadapi suasana sosial semacam ini dengan lebih tenang dan sabar, sehingga ia akan menjadi remaja yang berhasil dan cemerlang.

Penyesuaian Diri Remaja

Penyesuaian diri terhadap orang lain dan lingkungan sangat diperlukan oleh setiap orang, terutama dalam usia remaja. Kerana pada usia ini remaja banyak mengalami kegoncangan dan perubahan dalam dirinya. Apabila seseorang tidak berhasil menyesuaikan diri pada masa kanak-kanaknya, maka ia dapat mengejarnya atau memperbaikinya pada usia remaja. Akan tetapi apabila tidak dapat menyesuaikan diri pada usia remaja, maka kesempatan untuk memperbaikinya mungkin akan hilang untuk selama-lamanya, kecuali boleh didapati melalui pengaruh pendidikan dan latihan-latihan.

Remaja yang mampu menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungannya mempunyai ciri-ciri antara lain; suka bekerjasama dengan orang lain, simpati, mudah akrab, disiplin dan lain-lain. Sebaliknya bagi remaja yang tidak mampu menyesuaikan dirinya dengan orang lain atau lingkungannya mempunyai ciri-ciri; suka menonjolkan diri, menipu, suka bermusuhan, egoistik, merendahkan orang lain, buruk sangka dan sebagainya. Jika kebetulan remaja belum mampu menyesuaikan diri dengan cara yang lebih baik, maka berusahalah ke arah pembinaan akhlak yang mulia, maka insya Allah suatu saat nanti kita akan mampu. Seorang remaja jangan lekas putus asa dan patah hati dalam menghadapi kehidupan ini jika ingin lebih sukses dan cemerlang di masa akan datang.

Keyakinan Agama dan Nilai Murni Remaja

Keinginan remaja terhadap sesuatu kadang kala tidak dapat dipenuhi kerana dihalangi oleh ketentuan agama dan adat kebiasaan di tengah masyarakat. Pertentangan itu semakin ketara jika remaja menginginkan sesuatu hanya menurut selera dan kehendaknya saja. Mereka berpakaian yang tidak senonoh, menonton video lucah dan berperangai tidak manis di pandang mata, padahal semua perbuatan ini berlawanan dengan ketentuan agama dan nilai-nilai murni. Bagi remaja yang padai menempatkan dirinya pada posisi yang betul maka dia akan menghindari segala keinginan yang tercela dari kehidupannya.

Pertentangan antara keinginan remaja dengan ketentuan agama ini menyebabkan jiwa remaja memberontak dan berusaha menepis kenyataan itu dengan menurutkan kata hatinya.Remaja yang berhemah tinggi dan berakhlak mulia serta mempunyai lingkungan keluarga yang menjalankan perintah agama, maka perkara ini dengan mudah mereka hadapi. Namun bagi remaja yang telah terlanjur melaksanakan sesuatu yang berlawanan dengan perintah agama hendaklah berusaha memperbaiki diri agar tidak sentiasa terlena dengan sesuatu pengaruh dan kenikmatan yang bersifat semantara itu.

Demikianlah di antara pengaruh atau gejolak jiwa yang terjadi dalam diri seorang remaja. Semuanya memerlukan perhatian remaja dalam memahami dirinya sendiri, serta perhatian ibu bapa agar ada saling pengertian dalam menghadapi dan memahami seorang insan yang berstatus REMAJA. Semoga informasi tentang remaja ini berguna dalam menjana para remaja dan pelajar dalam menghadapi abad yang penuh dengan cabaran dan godaan ini.

Bottom of Form

Sumber: http://www.darulnuman.com

Karakteristik Pemuda Muslim

Kajian

Karakteristik Pemuda Muslim Dalam Sorotan Shirah

Posted by: Admin on Tuesday, June 03, 2003 - 09:04

Mendengar ucapan seperti itu pemuda tersebut berdiri dan berkata,"Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya seseorang itu dikarenakan dua hal yang paling kecil padanya, yaitu hati dan lisannya. Jika Allah telah menjaga hatinya (dari maksiat) dan memberikan lisan yang anggun (sopan), maka dia berhak untuk berbicara. Dan seandainya segala perkara dikarenakan oleh usia seseorang, maka yang berhak untuk duduk dalam jabatanmu adalah orang yang lebih tua darimu." (1) Mendengar ucapan tersebut, terkejutlah Umar atas kebenaran yang yang dikemukakan oleh pemuda itu.

Sejak jaman dahulu kala, bahkan jauh sebelum Islam muncul di muka bumi ini, para Nabi dan Rasul yang diutus untuk menyampaikan wahyu Allah SWT dan syari'at-Nya kepada umat manusia, semuanya adalah orang-orang terpilih dari kalangan pemuda yang berusia sekitar empat puluhan. Bahkan ada di antaranya yang diberi kemampuan untuk berdebat dan berdialog sebelum umurnya genap 18 tahun. Berkata Ibnu Abbas ra, "Tidak ada seorang Nabipun yang diutus oleh Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 - 40 tahun). Begitu pula tidak seorang 'alimpun yang diberi ilmu melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja". Kemudian Ibnu Abbas membaca firman Allah SWT, "Mereka berkata : Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." (2)

Tentang Nabi Ibrahim, Al Qur'an lebih jauh menceritakan bahwa beliau telah berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan mereka kepada patung-patung yang sama sekali tidak memberi manfaat dan mendatangkan mudharat. Saat itu beliau belum dewasa, seperti yang tertera dalam firman Allah SWT,

"Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepandaian pada Ibrahim sejak dahulu (sebelum mencapai masa remajanya) dan Kami kenal kemahirannya. Ketika dia berkata kepada bapak dan kaumnya : 'Patung-patung apakah ini, yang selalu kalian sembah ?' Mereka berkata : 'Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Dia berkata : 'Sungguh kalian dan bapak-bapak kalian itu dalam kesesatan yang nyata'. Mereka menjawab : 'Apakah engkau membawa kebenaran kepada kami, ataukah engkau seorang yang bermain-main saja?' Dia berkata : 'Tidak, Tuhanmu adalah yang memiliki langit dan bumi yang diciptakan oleh-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu'". (QS Al Anbiyaa : 51-56)

Perlu digarisbawahi di sini, bahwa para Nabi as telah diutus untuk mengubah keadaan saja, sehingga setiap Nabi yang diutus adalah orang-orang terpilih dan hanya dari kalangan pemuda (Syabab) saja. Bahkan kebanyakan pengikut mereka adalah dari kalangan pemuda juga, meskipun tentu saja ada yang sudah tua atau bahkan masih anak-anak. Kita ingat misalnya Ashabul Kahfi, yang tergolong sebagai pengikut Nabi Isa as. Mereka ini adalah sekelompok anak-anak usia muda yang menolak kembali ke agama nenek moyang mereka dan menolak menyembah selain Allah SWT. Oleh karena jumlahnya sedikit, tujuh orang di antara sekian banyak masyarakat yang menyembah berhala-berhala, maka mereka pun bermufakat untuk mengasingkan diri dari masyarakat dan berlindung dalam suatu gua. Fakta sejarah ini diperkuat oleh Al Qur'an, yang dikisahkan dalam QS Al Kahfi : 9-26, di antaranya,

"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat perlindungan lalu berdoa : 'Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan tolonglah kami dalam menempuh langkah yang tepat dalam urusan (ini)' " (ayat 10)

"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta), dan Kami berikan kepada mereka tambahan pimpinan (iman, taqwa, ketetapan hati dan sebagainya)"" (ayat 13)

Junjungan kita Nabi Muhammad SAW tatkala diangkat menjadi Rasul, beliau juga baru berusia empat puluh tahun. Pengikut-pengikut beliau yang merupakan generasi pertama, kebanyakan juga dari kalangan pemuda, bahkan ada yang masih kecil atau belum dewasa. Usia para pemuda Islam yang mendapatkan tarbiyah pertama di Daarul Arqaam, pada tahap pengkaderan adalah sebagai berikut :

Ali bin Ali Thalib, paling muda di antara mereka, usianya saat masuk Islam baru 8 tahun
Az Zubair bin Al 'Awwam, sama dengan Ali yaitu 8 tahun
Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun
Al Arqam bin Abil Arqaam, 12 tahun
Abdullah bin Mas'ud, 14 tahun
Sa'ad bin Abi Waqqaas, 17 tahun
Su'ud bin Rabi'ah, sama dengan Sa'ad, yaitu 17 tahun
Abdullah bin Mazh'un, juga berusia 17 tahun
Ja'far bin Abi Thalib, 18 tahun
Qudaamah bin Mazh'un, 19 tahun
Sa'id bin Zaid, berusia di bawah 20 tahun
Suhaib Ar Rumi, juga berusia di bawah 20 tahun
Assa'ib bin Mazh'un, kira-kira 20 tahun
Zaid bin Haritsah, sekitar 20 tahun
'Usman bin 'Affan, sekitar 20 tahun
Tulaib bin 'Umair, sekitar 20 tahun
Khabab bin Al Art, juga sekitar 20 tahun
'Aamir bin Fahirah, 23 tahun
Mush'ab bin 'Umair, 24 tahun
Al Miqdad bin Al Aswad, seperti Mush'ab 24 tahun
Abdullah bin Al Jahsy, 25 tahun
Umar bin Al Khaththab, 26 tahun
Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, 27 tahun
'Utbah bin Ghazwaan, juga 27 tahun
Abu Hudzaifah bin 'Utbah, sekitar 30 tahun
Bilal bin Rabah, sekitar 30 tahun
'Ayyasy bin Rabi'ah, kira-kira 30 tahun
'Amir bin Rabi'ah, sekitar 30 tahun
Nu'aim bin Abdillah, hampir 30 tahun
'Usman bin Mazh'un, kira-kira 30 tahun
Abu Salamah, Abdullah bin 'Abdil Asad Al Makhzumi, sekitar 30 tahun
Abdurrahman bin 'Auf, juga 30 tahun
Ammar bin Yasir, antara 30-40 tahun
Abu Bakar Ash Shiddiq, 37 tahun
Hamzah bin Abdil Muththalib, 42 tahun
'Ubaidah bin Al Harits, paling tua di antara semua sahabat, 50 tahun.

Bukan hanya mereka saja yang dari kalangan pemuda, akan tetapi ratusan ribu lainnya yang memperjuangkan dakwah Islam, pembawa panji-panji Islam serta pemimpin bala tentara Islam di masa Nabi ataupun sesudahnya, mereka seluruhnya dari kalangan pemuda, bahkan remaja yang belum atau baru dewasa. Adalah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Nabi sebagai komandan untuk memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam, yang saat itu merupakan salah satu wilayah kerajaan Romawi. Masih ingat usia beliau saat itu? Ya, delapan belas tahun. Padahal di antara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua dari Usamah, seperti : Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan lain-lain. Abdullah Ibnu Umar tak kalah juga hebatnya, semangat juang untuk berperang mulai memanaskan jiwanya sejak usia 13 tahun. Ketika itu Rasulullah SAW sedang mempersiapkan barisan pasukan pada perang Badar. Dua pemuda kecil datang menghampiri beliau, seraya meminta agar diterima menjadi prajurit. Tak salah lagi, dua pemuda kecil tersebut adalah Abdullah bin Umar dan Al Barra'. Saat itu Rasulullah saw menolak mereka. Tahun berikutnya pada perang Uhud, keduanya datang lagi, tetapi yang diterima hanya Al Barra'. Dan pada perang Al Ahzab barulah Nabi menerima Ibnu Umar sebagai anggota pasukan kaum muslimin. (3)

Melalui para pemuda seperti inilah, Islam berhasil menyingkirkan segala macam kekuatan. Ada satu peristiwa yang sangat menarik sekali untuk direnungkan para pemuda jaman ini. Peristiwa ini selengkapnya diceritakan oleh Abdurrahman bin 'Auf,

"Selagi aku berdiri di dalam barisan dalam perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiriku, saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat daripadanya. Tiba-tiba salah seorang di antaranya menekanku seraya berkata : 'Hai paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal ?' Aku jawab : 'Ya, apakah keperluanmu padanya, hai anak saudaraku?' Dia menjawab : 'Ada seseorang yang memberitahuku bahwa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah SAW. Demi (Allah) yang jiwaku ada di tangan-Nya jika aku menjumpainya tentu takkan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dahulu mati, antara aku atau dia! 'Berkata Abdurrahman bin 'Auf : 'Aku merasa heran ketika mendengar ucapan anak muda itu.'Kemudian anak yang satunya lagi itupun menekanku dan berkata seperti ucapan temannya tadi. Tidak lama berselang akupun melihat Abu Jahal mondar-mandir di dalam barisannya, segera aku katakan (kepada dua anak muda itu), 'Inilah orang yang sedang kalian cari.' Tanpa mengulur-ulur waktu, keduanya seketika menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu merekapun menghampiri Rasulullah SAW (dengan rasa bangga) melaporkan kejadian itu. Rasulullah bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang menewaskannya?' Masing-masing menjawab, 'Sayalah yang membunuhnya.' Lalu Rasulullah bertanya lagi, ' Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?' 'Belum', jawab mereka serentak. Rasulullah pun kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda, 'Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal (boleh) dimiliki Mu'adz bin Al Jamuh'. (Berkata perawi hadits ini) : Bahwa kedua pemuda itu adalah Mu'adz bin'Afra dan Mu'adz bin 'Amru bin Al Jamuh." (4)

Pemuda-pemuda yang dipaparkan di atas merupakan pemuda yang telah membuktikan pada masanya akan aktivitas yang mereka lakukan dan bisa mengubah wajah dunia saat itu dan sekarang, Insya Allah. Dari potret pemuda masa lalu tersebut, kita dapat menggali dari mereka dan merefleksikan pada diri kita dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Agar kita bisa menjadi sosio kultur atau pengubah ke arah yang baik, untuk menjayakan kembali umat Islam ini. Sehingga akan datang janji Allah pada kita sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah,

"Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan bagiku dunia ini, baik ufuk Timur maupun Barat. Dan kekuasaan umatku akan sampai kepada apa yang telah diberikan kepadaku dari dunia ini." (5)

Saat ini yang harus kita refleksikan dari diri mereka ada tiga hal dan ketiga hal tersebut disebutkan dalam firman Allah SWT dalam surat Fushilat : 33,

"Dan siapakah ucapannya yang paling baik daripada orang yang berdakwah kepada Allah, beramal yang baik dan berkata : 'Sesungguhnya aku ini adalah termasuk orang-orang yang berserah diri' ."

Ketiga hal tersebut (dalam ayat di atas) adalah :

1. Berdakwah atau mengajak umat ini kepada Allah. Dengan kata lain seorang pemuda harus berani mengungkapkan kebenaran yang ada pada Islam, serta membeberkan kerusakan-kerusakan yang ada pada sistem atau pada ide-ide Barat yang banyak diikuti oleh pemuda-pemuda yang bodoh. Dengan dakwah ini pemuda-pemuda pada masa Rasulullah sanggup mengubah kultur yang rusak ke arah yang baik, menegakkan panji-panji Islam dan sanggup menghancurkan setiap kebatilan yang ada. Melalui dakwah ini pula Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang tergolong sebagai pemuda, mengadakan pemberangusan terhadap idiologi-idiologi yang bertentangan dengan Islam dan menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.

2. Beraktivitas yang baik dan sesuai dengan syari'at-syari'at Islam. Seorang pemuda seharusnya bisa beraktivitas yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain, dengan batasan-batasan syari'at Allah.

3. Seorang pemuda muslim yang benar-benar bertaqwa, harus berserah diri pada Islam. Maksudnya pemuda harus menjadikan Islam sebagai standart dari perilaku, sehingga kehidupan seorang pemuda akan benar-benar mendapat ridla Allah SWT.

Dengan tiga hal tersebut, seorang pemuda harus benar-benar menjalankannya, supaya akan datang janji Allah. Sebagaimana firman Allah pada surat An Nuur : 55,

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang baik, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menja- dikan mereka berkuasa di muka bumi ini sebagaiman telah Dia jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh-sungguh Dia akan menegakkan bagi mere- ka agama yang telah diridloi-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menu- kar (keadaan mereka) sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sen- tosa. Oleh karena itu mereka menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku."

Wallahu 'A'lam bish Showaab.

15 Jumadil Akhir 1416/8 November 1995

Qismu Dakwah Yayasan Al Haromain

Catatan Kaki :
(1) Zakrul Adab, jilid I, hal. 7
(2) QS Al Anbiyaa : 60; Tafsir Ibnu Katsir, jilid III, hal. 183
(3) Shahih Bukhari, jilid VII, hal. 226 dan 302
(4) Musnad Imam Ahmad, jilid I, hal. 193; Shahih Bukhari, hadits nomor 314; Shahih Muslim, hadits nomor 1752
(5) HR Muslim, jilid VIII, hadits no. 1771; Abu Dawud, hadits no. 4252; Tirmidzi, jilid II, hal. 27

Sumber: http://www.hudzaifah.org/Article76.phtml